Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

RSS

OPINI TENTANG PEMIMPIN

“KHALIFAH”
Oleh DIANA RIAJI

"Bahwasanya Imam itu bagaikan perisai, dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung." [HR. Muslim]

D
alam masa sekarang obsesi pergulatan antar partai dipertaruhkan, dimana money politic bebas berkeliaran hanya untuk mendapatkan kursi jabatan di pemerintahan. Hadith diibaratkan Seorang pemimpin merupakan tonggak ( tiang ) utama untuk kesejahteraan rakyatnya.
Sosok Umar bin khattab yang bergelar “Al-Faruq” yang semasa hidupnya diwarnai dengan peperangan pembebasan negeri-negeri islam dan penerapan peraturan dalam suatu pemerintahan, Umar bin Khattab tampil sebagai pemimpin yang berani dalam memperjuangkan kebenaran, pemimpin yang teguh dalam membedakan yang benar dan bathil. Keteguhannya dalam menaklukkan Palestina, ketika berada di Yerussalem. Umar bin Khattab memberikan toleransi, kebijaksanaan, dan tidak membedakan adanya perbedaan keyakinan, dan perdamaian  Muslim, Nasrani, dan Yahudi yang menjadikan ketiganya hidup berdampingan meski dengan aturan Islam. Salahudin diceritakan mengalahkan tentara perang Salib dalam pertempuran Hattin, penggambaran sosok Salahudin yang arif dan adil kepada masyarakat non-muslim dengan pembebasan meski masyarakat muslim telah banyak yang menjadi korban akibat kekejaman dari masyarakat zionis yang membunuh secara keji dan tidak berperikemanusiaan terhadap masyarakat muslim, atau pada masa kesultanan Ottoman yang diperintah dengan sistem bangsa (millet) yang gambaran dasarnya bahwa yang berbeda keyakinan diizinkan hidup menurut keyakinan dan system hukumnya sendiri, meskipun Kesultanan Ottoman adalah negara Islam yang diatur oleh orang-orang Islam, kesultanan tidak ingin memaksa rakyatnya untuk memeluk Islam. Sebaliknya kesultanan ingin memberikan kedamaian dan keamanan bagi orang-orang non-Muslim dan memerintah mereka dengan cara sedemikian sehingga mereka nyaman dalam aturan dan keadilan Islam.
Andai para pemimpin kita menjelma sosok Umar bin khattab? Pemimpin yang bisa melihat nasib para rakyatnya, pemimpin yang berani memberontak kekufuran golongan penindas, sehingga tak seorangpun terdzolimi. Namun realitasnya kehidupan lagaknya berbanding terbalik dengan masa kepemimpinan pada masa Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya. Kemiskinan semakin terpuruk, Pendidikan yang tidak merata, petani menjerit dengan hasil pertanian impor lebih membumi di negaranya sendiri, sedang hasil pertanian lokal drastis anjlok kalah saing dengan harga barang impor yang jauh lebih murah. bahkan kaum elit lagaknya semakin berkuasa dijagat persaingan bisnis dan ekonomi, para penguasa tertawa dengan parlentenya.
             Menelitik masa kejayaan Susilo Bambang Yudhono, yang tercatat sudah menjabat dua periode jabatan, dalam kepemimpinannya yang sedikit banyak mengalami pasang surut dalam perkembangan di segala sector ekonomi, pendidikan, dan keamanan meski tidak signifikan. Demokrasi sebagai kekuatan untuk mengambil hati rakyat, bahkan Obama pernah memberikan apresiasi terhadap politik Demokrasi yang diusung presiden Susilo Bambang Yudhoyono, meski banyak pejabat yang terlibat dengan skandal hukum. Dalam kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tak sedikit kasus korupsi yang terkuak oleh KPK meski kenyataannya dalam beberapa kasus dinilai lamban dalam penangannya, sehingga beberapa penyelidikan kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negeri terjadi kesimpangsiuran berita. Mayoritas dari pelaku yang terlibat skandal korupsi diantaranya bebas bersyarat, yang kemudian memunculkan masalah baru dengan adanya politik uang mafia hukum di badan penegakan hukum itu sendiri. Paradigma politik pada masa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya saat menjabat khalifah seharusnya menjadi acuan dan pedoman dalam memimpin kasanah perpolitikan dan kekuasaan di negeri yang tercinta ini.
Kepemimpinan sosok Umar bin Khattab mengingatkan kita pada rakyat China, dimana kekuasaan dibawah pimpinan Hu Cin Tao yang bertekad memberantas korupsi di negaranya dengan mengumumkan akan mempersiapkan seribu peti mati untuk pelaku pencurian uang di negara tersebut. Dalam buku “The China Business Handbook” disebutkan, pada tahun 2003 sebanyak 4.300 kasus diungkap dan sebagian divonis hukuman mati. Kebijakan itu menjadi China mengalami kemajuan dan perkembangan ekonomi yang pesat serta diperkirakan akan menjadi negara adidaya di dunia internasional. Pemimpin China yang memanifestasikan masyarakatnya dengan kearifan lokal yang menjadikan kekuasaannya sebagai amanah rakyat bukan sebagai mendongkrak langkah untuk jalan investasi untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Subhanallah, suatu perubahan yang patut di contoh bagi pemimpin-pemimpin di dunia.
Semar  yang digambarkan dalam mitologi jawa sebagai sosok yang mampu menerapkan falsafah kepemimpinan yang berhasil memajukan bangsa, sebagai simbol sosok pemimpin ideal, yang memiliki sifat rendah hati dan tidak serakah. Paribasan yang berwujud falsafah kebatinan bagi masyarakat Jawa ”denta denti kusuma warsa sarira cakra”. Penggambaran hakikat dari keadilan menurut pandangan orang Jawa, yang benar tidak dapat disalahkan, yang salah tidak boleh dibenarkan. Sayangnya, Pemimpin di masa kini bersikap apatis terhadap dengan paribasan ini. Ketika kepentingan muncul, asalkan ada uang dan kekuasaan, yang benar dapat menjadi salah, yang salahpun dapat menjadi benar. ( na’udzubillah )
Seorang pemimpin/Ulil Amri merupakan figur, yang mana seorang pemimpin harus mempunyai sifat sifat yang arif, bijaksana, sabar, tegas, adil, penuh perhitungan dalam setiap mengambil keputusan antara manfaat maupun madhorot terhadap rakyatnya. Seorang pemimpin harus bertanggung jawab dalam menjalankan tugas yang diembannya. Namun sebagai rakyat juga harus taat kepada pemimpin “athi’ullaaha wa athii’urrosuula wa ulil amri minkum” taatlah kepada allah, taat kepada rosulmu, dan para pemimpin diantara kamu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Summary of the return of Abel Behenna


Iron Maiden

The story told about a couple who went  to Nunberg, Germany.  They were Amelia and writer itself. They met  Elias which was from America. Then, He became a couple’s friend. They spent a lot of time together.
One day, They went to visit the castle. They walked up the hill and looked down into the moat.  They saw a large black cat with her kitten. Suddenly, Elias wanted to fall the stone to the cat’s family. Unfortunetly, the stone fell and hit the kitten. The kitten died immedietly. The mother’s cat looked unhappy. Her eyes seem shiningly.   
Then, They went on up the road. There is Torture tower which is the most interesting building in the city of nunberg. There was  a guide to show visitor around the tower. They reached at the top of the stairs. There were horrible instrument which was used to torture people. They went to centre of the room. This was called Iron Maiden. The room was very frigtening. There were long iron spikes which was able to kill everyone.
Elias wanted to get in the Iron Maiden, but the guide did not agree. Elias took his money to the guide. The guide tie their body in the narrow room which was full spikes. Suddenly, a cat was very cruel scracted the guide face who pulled the rope carefully. Finally, the spikes came out of Elias body. His face looked awful. The writer hold Amelia outside which was fainted. The writer didn’t want his wife see this moment. Then, the writer ran back into the room and took a big sword. He killed the cat.

The Judge’s House

The story told about a man who want finish his final examination. His name was Malcolm Malcolmson. They faced difficulty in his room because he lived with his family which was noisy. Then, he went to quite town, Benchurch.
One day, He found a large old house. He asked to the man in the shop about that house. Then, a man wanted Malcolm met a lawyer. Malcolm gave the lawyer enough money to rent the house for a month.
Next day, Malcolm began finish his final examination. He prepared food and drink. He lit a fire in the chimney to warm his body. He saw many rats everywhere in that room.  Malcolm looked enermous rats. His teeth was sharp and red eyes looked cruel. Malcolm picked up a book and threw it at the rat. But the book did not hit the rat. Then, he looked at the alarm bell rope. It was strong, but it also felt soft and smooth.
The next day, his friend told him that Judge was very cruel. He punished many crimminal to death. Then, he came to the judge house which was cleaned by a woman. He saw a painting. He looked the judge’s eyes similar with enermous rat. Suddenly, Malcolm felt terribly afraid.  The enermous rat tied a rope around his neck. The others rat wanted to help Malcolm. The rats would ring the alarm bell, but they didn’t ring. The enermous rat’s face twisted anger. Then,  he pulled the rope and tied the two end of the rope together. Then, Malcolm’s body swung from the end of the rope with the tightly round his neck.
Finally, the alarm bel rang louder and louder. People came to the judge’s house. They found Malcolm in the dining room. His body was hanging from the end of alarm bell rope. They all looked at the painting. There was a smile on the judge’s face. It was an evil smile.

the Return of Abel Behena

Two young men once lived in a small town beside the sea. Their names were Abel Behena and Eric Sanson. Abel and Eric were friends. They had been friends since they were children. They were the same age - twenty years old. When they were fourteen, Abel saved Eric's life. But, at the age of twenty, their friendship was broke,. They both fell in love at the same time-unfortunately, they both fell in love with the same girl. Her name is Sarah. Sarah liked Abel and she liked Eric. She wanted to marry one of them. But she did not know which one. She promised them to decide which one on her birthday. On her birthday, early in the morning, both men came to Sara's house. But she was unable to decide between the two young men.
Then, her mother had an idea. The idea was to toss a coin. The winner would be able to get the money of two young men all. He would buy goods with the money and sell the goods in foreign countries. When he was rich, he would return and be able to marry her. The men agreed it, and tossed the coin. The winner was Abel and the loser was Eric. While Abel was in foreign countries, Eric proposed her to get married with again and again. She promised him to get married with if Abel return on the next her birthday.
One night before her birthday was a few days away, there was a terrible storm. The men of the town ran from the harbour along the shore. they heard the cries of the people in the water. Eric climbed carefully onto the wet rock. Suddenly, he heard a cry. Someone was trying to swim to the rock. Eric threw the rope towards the man. The man caught it and tied it round his body. Eric began to pull the rope towards him. Eric saw the man's face clearly. It was the face of Abel Behena. He had come back to marry Sarah. Eric let go of the rope. It fell onto the rock and then slipped into the water. Abel sank in the sea.
On the day of the wedding, the weather was fine. Eric and Sarah walked together towards Sarah’s house in the town. Sarah's mother was preparing the wedding meal for them there. All their friends walked behind them. They walked along the edge of the shore towards the town. Suddenly, Sarah gave a cry. She pointed at the shore. Everyone stopped and looked. There was a body lying on the shore. It was Abel Behena. Abel had promised to return. This was the return of Abel Behena

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makalah tentang kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN

I.                   LATAR BELAKANG

Di era globalisasi sekarang ini, Pendidikan dianggap sebagai tolak ukur dalam kemajuan suatu bangsa yang ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Sehingga, dalam pelaksanaannya dalam instansi sekolah sangat mempengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri, terutama guru dan siswa sebagai komponen berlangsungnya pendidikan. Pentingnya sebuah kurikulum membawa implikasi pada penerapan pembelajaran yang terarah sehingga tujuan dari pendidikan dapat terencana dengan baik.
Oleh karena itu, Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Selain itu, dengan level pendidikan yang tinggi, seseorang mampu bersaing dengan perkembangan teknologi yang sudah sangat canggih. pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan bukan saja untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, melainkan juga dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan diyakini mampu menanamkan kapasitas baru bagi semua orang untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat diperoleh manusia produktif. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara; khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum.
Di samping itu, kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan inst itusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan arah agenda reformasi pendidikan nasional. Adanya beberapa program pembaharuan dalam bidang pendidikan nasional merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mampu mengembangkan kehidupan demokratis serta mantap dalam memasuki era globalisasi

II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Apa fungsi kurikulum dan peranan kurikulum dalam pendidikan?
  1. Apa hubungan (keterkaitan ) guru dengan perkembangan kurikulum ?
  2. Apa urgensi kurikulum dalam pendidikan?
III.             TUJUAN PENULISAN

1.      Memahami konsepsi kurikulum secara umum
2.      Memahami fungsi kurikulum dalam pendidikan
3.      Memahami hubungan (keterkaitan ) guru dengan pengembangan kurikulum

IV.             MANFAAT PENULISAN

Makalah ini bermanfaat bagi para pendidik, tenaga kependidkan, dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia secara komprehensif sehingga proses pendidikan dapat terselenggara secara efektif dan efisien.


BAB II
KAJIAN TEORI

  1. Konsepsi Kurikulum
Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara; khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Di samping itu, kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan inst itusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan arah agenda reformasi pendidikan nasional. Adanya beberapa program pembaharuan dalam bidang pendidikan nasional merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mampu mengembangkan kehidupan demokratis serta mantap dalam memasuki era globalisasi. Pentingnya sebuah kurikulum membawa implikasi pada penerapan pembelajaran yang terarah sehingga tujuan dari pendidikan dapat terencana dengan baik.
Kata “kurikulum” tentu sudah tidak asing lagi kita kenal dalam dunia pendidikan. Kurikulum memegang peran yang sangat penting dalam menimgkatkan kualitas pendidikan suatu negara. Dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pembelajaran untuk memperoleh penghargaan yang berupa ijazah. Dari pengertian tersebut, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok,yaitu : (1). adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa dan (2). Tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah.
Sucipto dan Raflis (1994: 142) mengemukakan, kurikulum dapat diartikan secara sempit dan luas. Dalam pengertian sempit, kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Sedangkan dalam pengertian luas, kurikulum adalah semua pengalaman belajar yang diberikan sekolah kepada siswa selama mereka mengikuti pendidikan di sekolah.
Nurhadi (2005: 1) menyatakan bahwa kurikulum merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.  Pentingnya sebuah kurikulum membawa implikasi pada penerapan pembelajaran yang terarah sehingga tujuan dari pendidikan
Dalam  UU Sisdiknas diterangkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Oemar Hamalik (2001: 18) menambahkan bahwa isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan perkembangan kehidupan peserta didik, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat. (Sudarsah dan Nurdin: 2009)
Robert S. Zais (1976) mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum, yaitu: philosophy and the nature of knowledge, society and culture, the individual, and learning theory. Dengan berpedoman pada empat landasan tersebut, maka dibuat model yang disebut “an ecletic model of the curriculum and its foundation.”
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah


BAB III
PEMBAHASAN
  1. Fungsi Kurikulum
Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah dan pengawas, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervise atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk memberi bantuan bagi penyelenggaraan proses pendiddikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu :
a.                   Fungsi Penyesuaian( the adjustive or adaptive function )
Kurikulum harus mampu mengarahkan siswa agar mampu menyesuiaankan dirinya dengan lingkunagn baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
b.         Fungsi Integrasi ( the integrating function )
Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh, untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakat.
c.         Fungsi Diferensiasi ( the differenting function )
Kurikulum bermakna sebagai alat pendididkan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.
d.         Fungsi Persiapan ( the propedeutic function )
Kurikulum bermakana sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi kejenjang pendidikan selanjutnya.
e.         Fungsi Pemilihan ( the selective function )
Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
f.          Fungsi Diagnostik ( the diagnostic function )
Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya.


B.        Peranan Kurikulum
Kurikulum memiliki peranan yang sangat setrategis dan menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yaitu :
a.         Peranan Konservatif
Menekankan bahwa kurikulum itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk mentrasmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda.
b.         Peranan Kreatif
Menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang.
c.         Peranan Kritis dan Evaluatif
Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Menekankan kurikulum harus turut aktif berfatisipasi dalam kontrol atau filter sosial.
Peran Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam setiap program pendidikan pasti mempunyai kurikulum, yang mana kurikulum tersebut biasanya tertuang dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), yang berguna sebagai pedoman guru dalam melaksanakan kurikulum dalam suatu sekolah. Jadi guru dalam pelaksanaan kurikulum ini sangat berperan dalam mentrasformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam buku kurikulum sesuai dengan petunjuknya kepada siswa dengan proses belajar mengajar.
Maka dari itu, berhasil tidaknya kurikulum banyak tergantung atas peranan guru yang dapat dilakukan dalam pengembangan kurikulum, antara lain :
1.         Guru sebagai perencana pengajaran, ia harus membuat perencanaan pengajaran dan persiapan sebelum melakukan kegiatan mengajar.
2.         Guru sebagai pengelola pengajaran harus dapat menciptakan situasi belajar yang memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.
3.         Guru sebagai evaluator, artinya ia melakukan pengukuran untuk mengetahui apakah anak telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. (Burhan Nurgiyantoro, 1988 : 57)
Dalam melaksanakan peranan-peranan di atas, guru dituntut untuk mampu mengembangkan sikap profesional guru, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pendidikan. Guru profesional, dalam hubungan ini, adalah guru yang memiliki keahlian sebagai guru, artinya guru itu harus mempunyai kompetesi atau kemauan dasar sebagai syarat untuk memangku profesi tersebut.
Kompetesi guru, seperti dikemukakan oleh Glasser, ada empat hal, yakni :
1. Menguasai bahan pelajaran
2. Kemampuan mendiagnosis kelakuan siswa
3. Kemampuan melaksanakan proses pengajaran
4. Kemampuan mengukur hasil belajar siswa
(Nurhaida Amir dan Rudito, 1981 : 1)
Jadi guru dalam mengemban tugas sebagai seorang pengajar, minimal harus mampu :
Pertama, menguasai silabus atau GBPP serta petunjuk pelaksaaannya. Dimaksudkan dengan hal ini ialah seorang guru harus mampu memahami aspek-aspek berikut ini :
a. Tujuan yang ingin/hendak dicapai
b. Isi/materi bahan pelajaran dari setiap pokok bahasan/topik perkuliahan
c. Alokasi waktu untuk setiap topik perkuliahan/bahan pelajaran
d. Alat dan sumber belajar yang akan digunakan
Kedua, trampil menyusun program pengajaran/perkuliahan. Dalam hal ini dimaksudkan pengajar harus trampil dalam mengemas dan menyusun serta merumuskan bahan pelajaran/perkuliahan itu ke dalam SAP atau SP. Mulai dari merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai sampai pada teknik evaluasi yang akan digunakan untuk menilai hasil belajar siswa.
Ketiga, trampil melaksanakan proses belajar mengajar. Artinya trampil dalam mengimplementasikan kurikulum, yaitu mengaktualisasikan SAP atau SP dalam proses belajar mengajar di kelas kepada peserta didik. Termasuk dalam kawasan ini trampil dalam menerapkan berbagai metode, strategi, pendekatan, kiat, seni mengajar, memilih dan menetapkan sumber belajar yang tepat, menggunakan media pengajaran dan sebagainya.
Keempat, trampil dalam menilai hasil belajar siswa, yaitu mengevaluasi sejauh mana apa yang telah disampaikan kepada peserta didik di dalam proses belajar mengajar yang disebutkan terdahulu telah dapat dikuasai oleh siswa/peserta didik. Atau dengan kata lain trampil menilai sejauh mana materi/bahan pelajaran yang telah diberikan sudah menjadi milik siswa.


  1. Urgensi Kurikulum dalam Pendidikan
Kurikulum sangat penting dalam pelaksanaannya di dunia pendidikan. Kurikulum digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam peningkatan mutu pendidikan, sehingga tidak salah mengemukakan bahwa kurikulum termasuk dari kerangka kerja MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). Pentingnya sebuah kurikulum membawa implikasi pada penerapan pembelajaran yang terarah sehingga tujuan dari pendidikan dapat terencana dengan baik.
Perkembangan kurikulum di Indonesia sampai saat ini telah melahirkan Undang-Undang nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Badan Standar Pendidikan Nasional, disusul dengan Permendiknas 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, kemudian disusul dengan Permendiknas 23 tentang Standar Kompetensi Kelulusan dan Undang-Undang nomor 24 tentang Pelaksanaan Permendiknas nomor 22 dan 23.
Pembakuan Undang-Undang dan Permendiknas itu menjadi kekuatan hukum bagi penyelenggara pendidikan untuk menata kurikulum dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sehingga dengan demikian undang-undang dan peraturan menteri pendidikan nasional itu perlu dibaca dan dipahami. Untuk memahami kurikulum pendidikan perlu diketahui fungsi dasar pendidikan untuk menambah wawasan berpikir yang dikemukakan Sutisna (1998) sebagai berikut:
Wawasan kepala sekolah dan guru dalam mendidik dan mengajar siswa akan lebih matang bila kepala sekolah dan guru memiliki berbagai pengetahuan yang mendalam. Memiliki pengetahuan tentang fungsi pendidikan secara mendalam dan memahaminya dengan baik akan memberikan nuansa yang berbeda dengan tanpa pengetahuan tersebut. Tanpa mengindahkan tekanan yang berubah-ubah yang diberikan kepada fungsi pendidikan, tujuan pendidikan berasal dari empat dasar fungsi pendidikan, yaitu:
  1. Pengembangan individu yang meliputi aspek-aspek hidup pribadi; etis, estetis, emosional, fisis.
  2. Pengembangan cara berpikir dan teknik penyelidikan yang berkenaan dengan kecerdasan yang terlatih.
  3. Pemindahan warisan budaya, menyangkut nilai-nilai sivik dan moral bangsa.
  4. Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital yang menyumbang kepada kesejahteraan ekonomi, sosial, politik dan lapangan kerja.



BAB IV
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dalam pengembangan kurikulum seorang guru harus mampu mengintegrasikan antara bahan ajar, proses, fondasi profesional kependidikan, penyesuaian diri terhadap suasana kerja dan kepribadian yaitu untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan

  1. Saran
Saran dari penyusun kepada pembaca agar senantiasa meningkatkan kualitas keilmuannya khususnya dalam ilmu kependidikan karena hakikatnya kita semua adalah seorang pendidik. Semoga kita termasuk pendidik yang baik dan amanah serta selalu dalam bimbingan Allah swt. Amin.



DAFTAR PUSTAKA


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS